Bisnis dapat menghasilkan keuntungan. Tetapi bagi seorang Muslimpreneur, bisnis juga dapat menjadi jalan untuk menghadirkan kebermanfaatan.
Inilah salah satu cerita yang muncul dari kajian Kampus Bisnis Umar Usman (KBUU) bersama International Centre for Education in Islamic Finance (INCEIF) mengenai dampak sosial-ekonomi alumni KBUU.
Melalui Action-Based Learning Project: Measuring Socio-Economic Impact of KBUU Alumni, KBUU dan INCEIF tidak hanya melihat perubahan dari sisi ekonomi, tetapi juga mencoba memahami bagaimana pendidikan kewirausahaan berbasis nilai Islam mempengaruhi cara alumni KBUU menjalankan bisnis dan menjalani kehidupan.
Kajian tersebut menggunakan pendekatan Sustainable Livelihood Impact Assessment (SLIA) dan CIBEST, yang memungkinkan perubahan alumni dilihat dari perspektif kesejahteraan material sekaligus spiritual.
Keberhasilan Bisnis Tidak Hanya Diukur dari Profit

Salah satu temuan dalam analisis CIBEST menunjukkan bahwa 82 persen responden berada dalam kategori prosperous, yaitu memiliki kesejahteraan finansial dan spiritual yang tinggi. Sementara itu, 18 persen responden berada dalam kategori material poor, yaitu memiliki kondisi spiritual yang kuat tetapi masih menghadapi keterbatasan dalam ketahanan finansial. Temuan ini menjadi menarik karena memperlihatkan bahwa pembicaraan mengenai entrepreneurship tidak selalu harus berhenti pada omzet, profit, aset, atau pertumbuhan bisnis.
Ada dimensi lain yang ikut menentukan makna keberhasilan. yaitu Nilai.
Di KBUU, hal tersebut dibingkai melalui pendekatan Prophetic Entrepreneurship—sebuah pendekatan kewirausahaan yang mengintegrasikan aktivitas bisnis dengan nilai-nilai keimanan, ibadah, karakter kenabian, nilai kemanusiaan, dan kepemimpinan. Karena itu, bagi alumni KBUU, pertanyaan tentang bisnis bukan hanya “Berapa banyak yang bisa saya hasilkan?”
Tetapi juga:
“Dengan cara apa saya mendapatkannya?”
“Apa dampaknya bagi orang lain?”
Dan “Apakah bisnis ini membawa kebermanfaatan?”
Serta “Apa masih sejalan dengan nilai-nilai agama?”
Ketika Sebuah Nilai Menjadi Keputusan Bisnis
Dalam wawancara dengan alumni, nilai-nilai tersebut terlihat dalam keputusan nyata yang diambil.

Ada alumni yang memilih menolak peluang ekonomi karena tidak sesuai dengan keyakinan yang mereka pegang. Ada pula yang menolak bekerja sama dengan produk yang tidak sesuai dengan prinsip syariah.
Bagi mereka, keputusan bisnis tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya peluang keuntungan. Bisnis juga merupakan bentuk pertanggungjawaban moral. Salah satu alumni, misalnya, memandang bisnis sebagai bentuk akuntabilitas kepada Allah dan tidak sekadar komersial. Di titik ini, bukti nyata keberhasilan KBUU dalam menanamkan pendidikan bisnis bertemu dengan pendidikan karakter.
Dari Bisnis untuk Kebermanfaatan
Dampak pendidikan KBUU juga terlihat dari kontribusi alumni kepada masyarakat.
Kajian menemukan berbagai bentuk kontribusi alumni, mulai dari penciptaan lapangan kerja, mentoring dan pelatihan UMKM, donasi, wakaf, pendidikan, hingga kegiatan sosial dan kebencanaan. Salah satu kisah datang dari Ahmad Mukhlisin, alumni Batch 5, yang mengembangkan Hijab Hayuri. Bisnis yang awalnya dijalankan oleh dua orang berkembang menjadi sekitar 60 karyawan, memiliki fasilitas produksi sendiri, serta melayani pasar Singapura, Malaysia, Brunei, dan China. Namun pertumbuhan bisnis tersebut tidak berhenti pada ekspansi pasar. Hijab Hayuri juga menjalankan kegiatan sosial secara rutin, termasuk dukungan untuk panti asuhan, masjid, dan pendidikan. Bagi Ahmad, bisnis dan nilai Islam tidak perlu dipisahkan.
“We are not just doing business, we are Muslims who do business according to Shariah.”

Kisah lain datang dari Faryd Kurniawan, alumni Batch 6, melalui bisnis Debunzi Risol. Berawal dari satu outlet di Bandung, bisnis tersebut berkembang menjadi enam cabang, dengan sekitar Rp600 juta pendapatan bulanan dan lebih dari 20 staf. Bisnis juga terus melakukan pengembangan produk dan menjalankan kegiatan zakat di masyarakat.
Dua kisah tersebut memperlihatkan satu hal penting: pertumbuhan bisnis dapat menciptakan ruang untuk tumbuhnya orang lain.
Menjadi Muslim yang Berbisnis
Pada akhirnya, mungkin inilah yang menjadi makna yang lebih luas dari pendidikan entrepreneurship di KBUU.
Menjadi entrepreneur bukan hanya tentang menjadi seseorang yang mampu dalam membangun bisnis. Tetapi menjadi seseorang yang mampu membawa nilai-nilai moral dan agama ke dalam bisnisnya.
Menjadi pengusaha yang berani mengambil peluang, tetapi tetap memiliki batas moral. Alumni KBUU berhasil menjadi pemilik bisnis yang mengejar pertumbuhan, tetapi memahami bahwa pertumbuhan tersebut juga dapat menjadi jalan untuk membuka lapangan pekerjaan dan memberi manfaat kepada masyarakat.
Kajian KBUU × INCEIF menunjukkan bahwa kekuatan KBUU salah satunya terletak pada kemampuannya membentuk entrepreneurial mindset, karakter, dan nilai-nilai Islam, sekaligus membangun jejaring alumni yang menjadi sumber dukungan dan peluang bagi perkembangan bisnis.
Karena pada akhirnya, bisnis bukan hanya tentang bagaimana kita menghasilkan sesuatu untuk diri sendiri. Bisnis juga tentang apa yang bisa kita hadirkan untuk orang lain.
Dan mungkin, di situlah makna Prophetic Entrepreneurship menemukan relevansinya: Menjadikan bisnis sebagai jalan untuk bertumbuh, beribadah, dan menghadirkan kebermanfaatan.